Ketika Gaza Kehilangan Suara

Oleh: Putri Efhira Farhatunnisa (Pegiat Literasi di Majalengka)

Di sini, tawa malaikat-malaikat kecil masih terdengar. Banyak dari mereka tumbuh aman dalam pelukan orang tuanya. Mereka bermain dengan bebas tanpa ancaman, belajar di ruang kelas yang penuh warna, dan tidur tanpa dihantui rasa takut.

Namun, pemandangan itu sangat kontras dengan keadaan saudara-saudara kita di Palestina. Di sana, yang tersisa hanyalah reruntuhan bangunan dan tenda-tenda pengungsian. Ancaman mengintai setiap waktu, serangan dapat terjadi kapan saja. Di tengah ketidakpastian itu, mereka menanti dengan cemas: siapa lagi yang akan menjadi syahid berikutnya?

Trauma yang Merenggut Kata-Kata

Tak hanya bangunan yang dihancurkan dan jasad yang dimusnahkan, Zionis juga telah merenggut banyak hal dari rakyat Palestina, salah satunya kemampuan untuk berkomunikasi. Penjajahan itu tidak hanya meninggalkan puing-puing kehancuran, tetapi juga luka batin yang mendalam, terutama bagi anak-anak. Mustahil mereka baik-baik saja setelah mengalami begitu banyak kehilangan, ketakutan, dan penderitaan.

Seorang psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, menyampaikan kepada BBC Mundo bahwa lebih dari satu juta anak di Palestina mengalami trauma berat. Bahkan, menurutnya, tidak ada satu pun anak di Gaza yang tidak mengalami trauma. Salah satu contohnya adalah Adam, seorang anak yang sebelumnya ceria dan gemar berbicara, tetapi mendadak menjadi diam ketika menginjak usia lima tahun. Para dokter di Gaza juga mengabarkan kepada Al Jazeera bahwa kasus serupa terus meningkat sebagai dampak dari genosida yang dilakukan Zionis. (Detik.com, 30 Mei 2026).

Hilangnya kemampuan berbicara merupakan salah satu wujud derita sunyi yang dialami anak-anak Gaza akibat serangan yang terus-menerus mereka hadapi. Entitas Zionis tidak hanya berupaya menghancurkan fisik mereka, tetapi juga merusak kondisi mental dan masa depan mereka. Kehidupan anak-anak itu tidak akan pernah sama lagi. Suara-suara yang hilang itu seharusnya lebih dari cukup untuk menggugah hati kaum Muslim di seluruh dunia.

Ketika Pengkhianatan Lebih Menyakitkan

Sayangnya, dunia hanya mampu memberikan bantuan kemanusiaan dalam jumlah terbatas tanpa menyentuh akar persoalan. Di saat yang sama, sebagian penguasa negeri-negeri Muslim justru menjalin hubungan dengan penjajah dan para pendukungnya.

Tidakkah kita merasa malu? Alih-alih menyelamatkan saudara sendiri, sebagian penguasa justru memilih bermitra dengan pihak yang telah merenggut kehidupan rakyat Palestina. Padahal, mereka adalah saudara seiman yang selama ini menanti pertolongan.

Kapitalisme dan Hilangnya Kepedulian Penguasa

Inilah potret yang lahir dari sistem kapitalisme. Sistem ini meniscayakan munculnya pemimpin yang lebih sibuk menjaga kekuasaan daripada membela nyawa saudara-saudaranya. Banyak penguasa Muslim telah merasa nyaman dengan kursi kekuasaan yang mereka duduki sehingga raungan Gaza pun seolah tidak lagi terdengar.

Mereka khawatir bahwa upaya sungguh-sungguh untuk membela umat Islam dan menegakkan syariat Islam akan mengancam stabilitas kekuasaan yang mereka miliki. Akibatnya, mereka lebih memilih menjalin kedekatan dengan para pendukung penjajah daripada berdiri bersama rakyat Palestina yang tertindas.

Umat yang Kehilangan Pelindung

Padahal, jika para pemimpin negeri-negeri Muslim bersatu, musuh-musuh Islam akan gentar. Ironisnya, dalam banyak keadaan, musuh-musuh Islam justru lebih memahami potensi kekuatan umat Islam dibandingkan umat Islam itu sendiri.

Kondisi ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh tsaqafah (kebudayaan) Barat dalam membentuk cara pandang kaum Muslim. Umat Islam telah kehilangan pelindungnya, yaitu sistem Islam yang dahulu menyatukan dan melindungi mereka. Akibatnya, umat menjadi tercerai-berai dan kehilangan arah, laksana anak ayam yang kehilangan induknya.

Mengakhiri Derita dari Akarnya

Derita anak-anak Gaza harus segera diakhiri. Tidak cukup hanya dengan terapi, bantuan kemanusiaan, atau makanan yang tersaji di atas meja. Akar persoalan harus diselesaikan, yaitu menghentikan penjajahan Zionis Israel dan mencegahnya melakukan serangan kembali.

Menurut pandangan Islam, hal itu hanya dapat diwujudkan melalui kekuatan militer yang mumpuni dari negeri-negeri Muslim. Untuk memobilisasi kekuatan tersebut dibutuhkan kepemimpinan tunggal yang mampu mengomandoi dan menyatukan umat Islam di bawah naungan sistem Islam.

Karena itu, kesadaran untuk memperjuangkan tegaknya Islam perlu terus disosialisasikan kepada seluruh kaum Muslim. Dengan tegaknya Islam sebagaimana yang pernah terwujud dalam sejarah, umat Islam akan kembali berada dalam perlindungan. Bahkan bukan hanya umat Islam yang merasakan keamanan tersebut, melainkan juga seluruh manusia yang hidup di bawah naungannya. Sebab Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi kaum Muslim semata.

Wallāhu a’lam bish-shawāb.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *