Ketika Game Online Memicu Kekerasan: Krisis Perlindungan Generasi di Era Digital.

Oleh Reisyavitani Adelia Rahma

Majalengka // zonakabar.com – Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara anak-anak berinteraksi dengan dunia. Game online yang awalnya dipandang sebagai hiburan kini menjadi ruang pembentukan emosi, cara berpikir, dan perilaku. Banyak game populer memuat unsur kekerasan yang dapat diakses anak-anak tanpa pengawasan memadai. Kondisi ini memunculkan persoalan serius ketika kekerasan di dunia digital mulai tercermin dalam tindakan nyata. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan game online bukan sekadar pilihan individu, melainkan masalah sistemik yang menyangkut tanggung jawab negara dan arah pengelolaan ruang digital.

Bacaan Lainnya

Fakta Kekerasan Anak dan Paparan Game Online

Tragedi pembunuhan di Medan pada Desember 2025 menjadi alarm keras. Seorang anak berusia 12 tahun menusuk ibunya hingga meninggal dunia. Kepolisian menyatakan bahwa salah satu pemicu tindakan tersebut adalah sakit hati karena game online miliknya dihapus, ditambah kebiasaan bermain game dan menonton tayangan yang menampilkan penggunaan pisau (Kompas.com, 2025). Fakta ini menunjukkan bahwa pengalaman digital dapat memengaruhi cara anak merespons konflik di dunia nyata.

Temuan tersebut diperkuat oleh berbagai penelitian. Studi di Indonesia menunjukkan adanya hubungan signifikan antara paparan game online bertema kekerasan dan kecenderungan perilaku agresif pada anak dan remaja (Jurnal Kesehatan Masyarakat, 2021). Penelitian lain menyebutkan bahwa semakin tinggi intensitas bermain game online, semakin besar pula potensi munculnya emosi negatif seperti mudah marah dan menurunnya empati sosial (Jurnal Psikologi Pendidikan, 2020). Hal ini menegaskan bahwa game online bukan ruang netral, terutama bagi anak yang masih berada dalam fase perkembangan psikologis.

Dampak pada Kesehatan Mental dan Sosial

Selain agresivitas, kecanduan game online berdampak pada kesehatan mental anak. World Health Organization (WHO) secara resmi memasukkan Gaming Disorder ke dalam ICD-11 sebagai gangguan yang ditandai dengan hilangnya kontrol, prioritas berlebihan pada game, serta dampak negatif pada kehidupan sosial dan keluarga (WHO, 2019). Kondisi ini dapat memicu gangguan tidur, kecemasan, hingga depresi.

Paparan kekerasan yang berulang juga berpotensi menurunkan sensitivitas moral. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa anak yang sering terpapar kekerasan dalam game cenderung lebih permisif terhadap tindakan agresif di kehidupan nyata (Anderson et al., 2017). Selain itu, dunia game online juga membuka risiko perundungan digital dan grooming melalui fitur komunikasi antar pemain. UNICEF mencatat bahwa anak-anak merupakan kelompok paling rentan terhadap eksploitasi di ruang digital ketika pengawasan lemah (UNICEF, 2017).

Kapitalisme Digital dan Lemahnya Peran Negara

Ruang digital kerap dipandang sebagai ruang bebas, padahal ia dibentuk oleh kepentingan ekonomi. Industri game global bernilai miliaran dolar dan menjadikan anak-anak serta remaja sebagai pasar utama. Demi keuntungan, banyak game dirancang menggunakan mekanisme adiktif dan konten kekerasan yang meningkatkan keterikatan emosional pemain (King et al., 2020). Dalam logika kapitalisme, dampak jangka panjang terhadap mental dan moral generasi sering kali diabaikan.

Di sisi lain, negara belum menjalankan peran perlindungan secara optimal. Lemahnya sistem klasifikasi usia, longgarnya pengawasan konten, serta pendekatan yang cenderung reaktif menunjukkan absennya kebijakan preventif yang berpihak pada keselamatan anak. Akibatnya, tanggung jawab perlindungan generasi seolah dibebankan pada keluarga semata, tanpa dukungan sistem yang kuat.

Perlindungan Generasi Secara Menyeluruh

Islam memandang perlindungan generasi sebagai kewajiban negara. Dalam maqashid syariah, menjaga akal (hifzh al-‘aql) dan keturunan (hifzh an-nasl) merupakan tujuan utama syariat. Negara tidak dibenarkan membiarkan sarana yang merusak akal dan jiwa anak beredar bebas atas nama hiburan atau keuntungan ekonomi.

Dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab mengatur ruang publik, termasuk ruang digital. Konten yang memicu kekerasan dan merusak mental generasi wajib dibatasi, sementara industri diarahkan untuk menghadirkan hiburan yang aman dan mendidik. Dengan demikian, hegemoni kapitalisme digital dilawan oleh kebijakan yang berpihak pada kemaslahatan manusia.

Tiga Pilar Penangkal Kerusakan Generasi

Islam menawarkan solusi melalui tiga pilar utama. Pertama, ketakwaan individu, yaitu pembinaan iman dan akhlak agar anak memiliki kontrol diri. Kedua, kontrol masyarakat, di mana keluarga dan lingkungan aktif mengawasi penggunaan teknologi. Ketiga, perlindungan negara, melalui regulasi tegas dan sistem pendidikan berbasis akhlak.

Jika ketiga pilar ini diterapkan secara terpadu dalam sistem politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya Islam, maka ruang digital tidak akan menjadi sumber kerusakan, melainkan sarana yang aman bagi generasi.

Penutup

Kasus kekerasan anak yang dipicu game online mencerminkan kegagalan sistem saat ini dalam melindungi generasi. Selama ruang digital dikuasai logika kapitalisme dan negara abai terhadap tanggung jawabnya, tragedi serupa berpotensi terulang. Islam menawarkan solusi menyeluruh yang mencegah kerusakan sejak akar persoalan. Dengan sistem Islam, generasi tidak dibiarkan tumbuh di bawah pengaruh konten yang merusak, tetapi dijaga secara nyata dan sistemik.

Referensi tulisan:
• Anderson, C. A., et al. Violent Video Game Effects on Aggression. Psychological Science, Maret 2017.
• Jurnal Kesehatan Masyarakat. Hubungan Game Online Kekerasan dengan Perilaku Agresif Anak, April 2021.
• Jurnal Psikologi Pendidikan. Dampak Intensitas Game Online terhadap Emosi Remaja, Juni 2020.
• King, D. et al. Monetization and Dark Patterns in Digital Games. Journal of Behavioral Addictions, September 2020.
• Kompas.com. Polrestabes Medan Ungkap Kronologi Pembunuhan Ibu oleh Anak, 29 Desember 2025.
• UNICEF. Children in a Digital World. Desember 2017.
• World Health Organization (WHO). Gaming Disorder, ICD-11. Mei 2019.

Refensi gambar: unsplash

Pos terkait

1 Komentar

Komentar ditutup.