Oleh: Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)
Majalengka // zonakabar.com – Langit sore di Majalengka mendung. Di sudut pasar yang basah oleh gerimis, seorang bapak paruh baya duduk bersandar pada gerobak sayurnya yang mulai kosong. Namanya Pak Udin. Ia bukan ekonom, bukan pula pejabat. Tapi hari itu ia bertanya dengan jujur,
“Kenapa ya, Bu… anggaran negara besar, tapi hidup saya makin sempit?”
Istrinya, Bu Ida, meletakkan bungkusan tempe dari kantong plastik. Ia menatap wajah suaminya yang mulai keriput oleh beban hidup.
“Katanya, Jawa Barat juara investasi. Tapi kita nggak pernah juara di dapur. Gula mahal, listrik naik, anak belum bisa lanjut sekolah.”
Pak Udin mengangguk. Ia tidak mengerti soal APBD, tapi ia tahu perut anaknya belum kenyang.
Gema dari Gedung Pemerintahan
Beberapa kilometer dari tempat Pak Udin duduk, di gedung megah ber-AC itu, Gubernur sedang berbicara di hadapan anggota dewan.
“Lebih dari sepertiga APBD 2025 digunakan untuk membayar utang dan kewajiban daerah.”
Kata-katanya disambut bisik-bisik, kamera wartawan, dan suara ketukan palu sidang. Tapi tak satu pun suara rakyat kecil seperti Pak Udin terdengar di ruang itu.
Pemerintah memang punya alasan. Utang itu warisan. Harus dibayar. Harus ditanggung. Tapi, apakah rakyat pernah diajak bicara sebelum utang itu ditandatangani? Apakah ada musyawarah sebelum pembangunan dijalankan?
Ketika Janji Investasi Menjadi Bayang-Bayang
Jawa Barat dulu dielu-elukan sebagai juara investasi. Papan reklame, seminar, dan konferensi terus menggaungkan harapan. Tapi realita di bawah berbeda. Ekonomi justru menurun. Menurut OJK, kredit bermasalah meningkat 3,93 persen. Dunia usaha terseok.
Dulu mereka bilang, “Investasi akan menciptakan lapangan kerja.” Tapi sekarang Pak Udin kehilangan langganan. Pasar sepi. Banyak yang memilih belanja di supermarket hasil investor asing. Petani kehilangan lahan karena sawah dijual untuk membangun properti.
“Jangan-jangan investasi itu bukan buat kita, Din… Tapi buat orang yang kita nggak kenal dan nggak pernah kenal kita,” keluh Bu Ida lirih.
Kapitalisme yang Menyusup Diam-Diam
Ekonomi yang dibangun hari ini mirip sekali dengan panggung sandiwara. Di depan, pertumbuhan ekonomi ditampilkan indah. Tapi di balik layar, rakyat tertindih utang dan kebijakan yang tidak mereka pahami.
Dalam sistem kapitalisme, negara seperti pelayan bagi pemodal. Proyek infrastruktur digenjot. Kawasan industri diperluas. Tapi jalan desa rusak, sekolah reyot, dan rumah sakit kekurangan alat.
“Apa negeri ini milik kami juga, Bu?” tanya anak Pak Udin yang membaca berita di hp lamanya.
Bu Ida hanya bisa mengelus kepala anaknya.
Arah Baru dari Langit, Cahaya dari Nilai-Nilai Islam
Seandainya negeri ini mau kembali kepada nilai Islam, mungkin ceritanya akan berbeda. Dalam Islam, utang bukan strategi, tapi opsi darurat. Negara tidak boleh menggadaikan masa depan rakyat demi ambisi jangka pendek.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Agar harta itu tidak beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”
(QS. Al-Hasyr: 7)
Rasulullah Saw. menolak menjadikan ekonomi sebagai alat segelintir elite. Beliau membangun pasar rakyat. Membebaskan pajak atas petani dan pedagang kecil. Umar bin Khattab memberi gaji pada guru dan rakyat miskin dari baitul mal. Umar bin Abdul Aziz bahkan membebaskan rakyat dari beban utang dalam dua tahun masa kepemimpinannya.
Rakyat Tak Ingin Banyak, Mereka Hanya Ingin Didengar
Kita tidak bisa menyalahkan satu orang. Tapi kita harus jujur bahwa sistem hari ini tidak berpihak pada rakyat. Sudah saatnya pemerintah membuka ruang kolaborasi, mendengar suara-suara seperti Pak Udin, dan tidak hanya terpesona pada angka investasi.
“Saya cuma pengin anak saya bisa sekolah tanpa mikirin biaya, Din…” suara Bu Ida menggetarkan.
Jika hari ini sepertiga anggaran habis untuk utang, maka besok harus ada keberanian untuk berkata cukup. Negeri ini tidak dibangun untuk statistik. Negeri ini dibangun untuk manusia. Untuk Pak Udin. Untuk Bu Ida. Untuk kita semua.
Akhir Cerita: Harapan Masih Ada
Malam itu, Pak Udin menatap langit yang perlahan cerah. Di sana, bintang-bintang mulai muncul.
“Selama masih ada yang peduli, Bu… saya yakin, negeri ini belum benar-benar hilang arah.”
Semoga saja para pemimpin mendengar. Semoga mereka sadar, bahwa rakyat tidak menuntut banyak. Mereka hanya ingin kebijakan yang adil, pemimpin yang jujur, dan masa depan yang tidak terus dihantui utang.
Karena pada akhirnya, negara bukan milik pemodal. Negara adalah amanah dari Allah Swt. untuk rakyat.





