Oleh: Putri Efhira Farhatunnisa (Pegiat Literasi di Majalengka)
Majalengka // zonakabar.com – Genosida atas rakyat Gaza masih belum berhenti. Meskipun zionis sempat saling serang nuklir dengan Iran, namun hal tersebut tak membuat penjajah ini absen dalam menghabisi nyawa saudara muslim kita di tanah suci itu.
Sedikitnya 15 orang meninggal, dan 10 diantaranya adalah anak-anak diserang tanpa ampun oleh zionis Israhell. Mereka diserang ketika mengantri di sebuah posko layanan kesehatan yang didirikan oleh komunitas kemanusiaan Project Hope.(tirto.id 11/7/2025)
Tragedi kemanusiaan yang tak kunjung berakhir di Gaza telah menyingkap wajah asli rezim penjajah Zionis yang kian beringas. Pembantaian sistematis terhadap warga sipil, anak-anak, dan perempuan tidak hanya menunjukkan kebrutalan penjajah, namun juga menunjukkan kegagalan komunitas internasional juga kaum muslimin di seluruh dunia dalam menjaga nyawa saudaranya.
Lebih dari itu, Gaza saat ini tidak hanya menjadi ladang pembantaian, melainkan juga disinyalir sebagai tempat uji coba senjata mutakhir, sebuah praktik barbar yang dikemas dalam label “perang melawan teror”. Zionis Israhell terlalu mabuk dengan ambisi buta, sehingga kemanusiaan pun tak lagi punya.
Namun ironi terbesar justru datang dari pemimpin negeri-negeri Muslim yang memilih bungkam, bahkan menjalin hubungan diplomatik yang mesra dengan entitas penjajah tersebut. Alih-alih menjadi tameng bagi umat, mereka menjadi kaki tangan penjajahan.
Mereka telah memesan kamar di neraka dengan rasa takutnya kehilangan legitimasi kekuasaan, dibanding dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas darah kaum Muslim yang tertumpah. Mereka bertingkah seakan maut takkan menghampiri.
Sementara itu, sebagian pihak hanya sanggup mengecam tanpa menawarkan solusi yang konkret. Mereka menggantungkan harapan pada jalur perundingan, resolusi PBB, atau tekanan internasional, jalur-jalur yang terbukti tak pernah menghentikan agresi Israhell sejak 1948.
Padahal sejarah telah menunjukkan, bahwa setiap jengkal tanah Palestina tidak pernah direbut kembali dengan negosiasi, tapi dengan kekuatan. Itulah yang dilakukan oleh Sayyidina Umar bin Khaththab dan Salahuddin Al Ayyubi dahulu.
Jihad dan Tegaknya Islam: Solusi Syariah yang Terbukti
Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan dipahami oleh para Sahabat, penjajahan atas negeri Islam hanya dapat dihentikan dengan jihad fi sabilillah di bawah komando pemimpin sejati umat yaitu sistem Islam.
Inilah thariqah (metode) syar’i yang telah dicontohkan dalam sirah Nabawiyah. Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan bahwa pembebasan wilayah kaum Muslimin bukanlah persoalan lokal, tapi bagian dari kewajiban umat secara keseluruhan yang membutuhkan institusi pelaksana.
Berdirinya sistem Islam bukan sekadar impian ideologis. Ia adalah institusi riil yang pernah menyatukan umat, melindungi kehormatan mereka, dan mengusir penjajah dari tanah Islam selama kurang lebih 13 abad lamanya, dari mulai Rasulullah ﷺ hingga pemimpin terakhir Abdul Majid II bani Utsmaniyyah.
Ketika sistem Islam berdiri, maka jihad bukan lagi aktivitas sukarela individu, tetapi kewajiban negara dalam membebaskan wilayah kaum Muslimin dari dominasi kafir harbi fi’lan (penjajah aktif), sebagaimana Israhell hari ini.
Kesadaran Umat: Modal Awal Kemenangan
Sebelum kemenangan datang, kesadaran harus ditegakkan. Umat Islam harus disadarkan bahwa solusi untuk Palestina tidak terletak pada konferensi internasional atau diplomasi dagang. Tapi pada perjuangan ideologis, dakwah menuju penerapan Islam kaffah (menyeluruh) dan penegakan sistem Islam
Gerakan umat pun harus berpijak pada metode Rasulullah ﷺ—yakni membina, membentuk opini umum, dan menantang penguasa—bukan melalui jalur demokrasi atau people power yang justru memperkuat sistem kufur dan menjauhkan umat dari perubahan hakiki.
Demokrasi tidak pernah menghasilkan pemimpin sejati umat, karena ia merupakan produk sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Ketika dasarnya saja sudah bathil, maka yang lahir darinya pun pasti merusak.
Istiqamah dan Waspada Terhadap Ancaman Dakwah
Para pengemban dakwah harus terus istiqamah dan waspada terhadap dua bahaya besar: bahaya kelas dan bahaya ideologi. Keduanya dapat memalingkan umat dari jalan dakwah yang benar, mengaburkan orientasi perjuangan, dan menjauhkan dari metode perubahan yang telah dicontohkan Rasulullah ﷺ.
Perjuangan ini memang panjang dan penuh rintangan, namun janji Allah pasti. Kemenangan akan datang hanya dengan mengikuti jalan kenabian. Karena itu, mari teguhkan barisan, kuatkan kesadaran, dan terus serukan bahwa satu-satunya solusi hakiki bagi Gaza dan seluruh tanah kaum Muslimin adalah jihad di bawah naungan sistem Islam.
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”. (TQS. At-Taubah ayat 111). Wallahua’lam bishshawab





