INOVASI LPM MAJALENGKA KULON DAN BABINSA: LIMBAH MBG DISULAP JADI PAKAN TERNAK BERKUALITAS.

MAJALENGKA // Zonakabar.com
Kepedulian terhadap lingkungan terus tumbuh seiring dengan pelaksanaan Program Makan Bergizi (MBG) di Kabupaten Majalengka. Salah satunya ditunjukkan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Majalengka Kulon bersama jajaran Babinsa yang mengembangkan inovasi pemanfaatan sisa makanan MBG menjadi bahan pakan ternak dan ikan.
Inovasi tersebut diinisiasi Ketua LPM Kelurahan Majalengka Kulon, Iing, bersama Babinsa Majalengka Kulon Sertu Rahmat Hidayat, Senin (7/9/2026).

Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengantisipasi timbulan sisa makanan dari pelaksanaan MBG, khususnya dengan adanya enam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di wilayah Majalengka Kota.
Alih-alih membiarkan sisa makanan berakhir sebagai sampah, LPM bersama Babinsa berupaya mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Ketua LPM Majalengka Kulon, Iing, mengatakan pemanfaatan limbah MBG merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus upaya menciptakan manfaat ekonomi dari bahan yang sebelumnya dianggap sebagai sampah.

“Hasil uji coba pembuatan pelet dari limbah MBG ini dinilai sangat menjanjikan dan efektif saat diaplikasikan langsung sebagai pakan budidaya ikan warga,” ujar Iing.

Menurutnya, sisa makanan yang terkumpul terlebih dahulu dipilah berdasarkan jenis dan kondisinya. Bahan organik yang masih memungkinkan dimanfaatkan dapat diarahkan untuk pakan unggas dan ikan, sementara sebagian lainnya digunakan sebagai media budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).

BACA JUGA |  Ps. Panit Samapta l Polsek Cikijing Berikan Pembinaan Kepemudaan Tentang Bahaya Narkoba di Desa Cisoka

Budidaya maggot BSF menjadi salah satu alternatif karena larvanya memiliki kandungan protein yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan untuk berbagai jenis ternak dan ikan.
Selain melalui budidaya maggot, LPM Majalengka Kulon juga melakukan uji coba pengolahan limbah makanan menjadi pelet ikan.

Proses pengolahan dilakukan melalui beberapa tahapan. Limbah makanan terlebih dahulu dipisahkan dari benda-benda non-organik, kemudian dibersihkan dan dicuci. Setelah itu, bahan dilakukan pengepresan dan pengeringan untuk mengurangi kadar air sehingga lebih tahan disimpan dan tidak mudah mengalami pembusukan.

Bahan yang telah kering kemudian ditepungkan dan diproses menggunakan mesin pencetak pelet hingga menghasilkan pakan ikan yang siap digunakan.

Inovasi tersebut diharapkan tidak hanya menjadi solusi dalam mengurangi volume sampah organik, tetapi juga dapat membantu menekan biaya pakan bagi masyarakat yang menjalankan usaha peternakan maupun budidaya ikan.

Sementara itu, Babinsa Majalengka Kulon Sertu Rahmat Hidayat menegaskan pihaknya siap mendukung pengembangan inovasi tersebut. Dukungan dilakukan melalui sinergi bersama masyarakat dan LPM, termasuk dalam upaya penampungan serta pemanfaatan sisa makanan dari dapur MBG/SPPG di wilayah Majalengka Kota.

BACA JUGA |  Polsek Kasokandel Launching Program Penguatan Pekarangan Lestari (P2L)

“Kami siap mendukung dan membantu agar limbah dari dapur MBG tidak menjadi persoalan lingkungan. Kalau bisa dimanfaatkan menjadi pakan ternak atau ikan, tentu akan memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat,” ungkapnya.

Menurutnya, pengelolaan limbah MBG membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pengelola dapur, pemerintah kelurahan, LPM, Babinsa hingga masyarakat penerima manfaat.
Dengan adanya pengelolaan di tingkat hilir, sisa makanan tidak hanya dipandang sebagai limbah, tetapi dapat dikembangkan menjadi sumber daya yang memiliki nilai tambah.

Ke depan, LPM Majalengka Kulon bersama Babinsa berharap inovasi tersebut dapat dikembangkan secara lebih terukur, termasuk dari sisi kapasitas produksi, kualitas pakan, serta keamanan penggunaannya untuk ternak dan ikan.

Selain mendukung kebersihan lingkungan, pemanfaatan limbah MBG ini juga sejalan dengan semangat ekonomi sirkular, yakni mengubah bahan sisa menjadi produk baru yang dapat dimanfaatkan kembali.

Inisiatif tersebut sekaligus menjadi contoh kolaborasi masyarakat dan aparat kewilayahan dalam mencari solusi sederhana terhadap persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

“Harapannya, apa yang kami lakukan ini bisa terus dikembangkan dan memberikan manfaat nyata. Limbah yang sebelumnya tidak bernilai, bisa menjadi sesuatu yang berguna bagi masyarakat,” pungkas Iing.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *