Hilangnya Ta’dzim dan Keteladanan: Krisis Akhlak dalam Pendidikan Hari Ini

Oleh : Siti Agustin Nurjanah, S. Pd., Gr

Viralnya kasus seorang guru SMK di Jambi yang dikeroyok muridnya seolah menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan. Ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat menumbuhkan ilmu dan adab justru berubah menjadi arena konflik dan kekerasan. Ironisnya, peristiwa ini tidak berdiri sendiri. Di baliknya tersimpan luka yang lebih dalam yaitu hilangnya ta’dzim murid kepada guru dan runtuhnya keteladanan dalam sistem pendidikan hari ini.

Berdasarkan pemberitaan, peristiwa bermula dari teguran di kelas yang berujung cekcok. Guru mengaku ditegur murid dengan cara tidak sopan dan kata-kata kasar saat proses belajar berlangsung. Namun dari sisi murid, muncul pengakuan bahwa sang guru kerap berkata kasar, menghina siswa dan orang tua, bahkan melabeli murid dengan sebutan “bodoh” dan “miskin”. Situasi ini kemudian berujung pada pengeroyokan yang mengguncang nurani publik. JPPI pun menilai peristiwa ini sebagai pelanggaran hak anak atas pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan.

Kasus ini jelas bukan sekadar persoalan emosi sesaat atau konflik personal. Ia adalah cermin buram pendidikan yang sedang kehilangan ruhnya. Relasi guru dan murid yang semestinya dibangun di atas penghormatan, kasih sayang, dan keteladanan, kini berubah menjadi relasi yang kering nilai, sarat tekanan, dan mudah meledak menjadi kekerasan.

Di satu sisi, tindakan murid yang mengeroyok guru adalah bentuk nyata hilangnya adab. Murid kehilangan batas, tidak lagi memuliakan guru sebagai pendidik dan pembimbing. Namun di sisi lain, kita juga tak boleh menutup mata terhadap perilaku sebagian guru yang melukai psikologis murid dengan hinaan, ejekan, dan kata-kata yang merendahkan. Ketika guru tak lagi menghadirkan keteladanan, dan murid tumbuh tanpa adab, konflik menjadi keniscayaan.

Inilah buah dari sistem pendidikan sekuler-kapitalistik yang memisahkan nilai agama dari proses pendidikan. Pendidikan direduksi menjadi sekadar alat mencetak tenaga kerja dan mengejar capaian akademik. Akhlak, adab, dan pembentukan kepribadian dianggap urusan sampingan. Tak heran jika yang lahir adalah generasi yang cerdas secara kognitif, tetapi rapuh secara moral.

Islam memandang pendidikan secara sangat berbeda. Pendidikan bukan semata mencetak orang pintar, melainkan membentuk manusia beradab. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa misi utama beliau diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia. Maka dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kerusakan.

Murid dalam Islam dididik untuk memuliakan guru (ta’dzim), sebagaimana para sahabat memuliakan Rasulullah ﷺ dan para pengajar mereka. Diriwayatkan, Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Aku adalah hamba bagi orang yang mengajariku satu huruf.” Ungkapan ini bukan untuk merendahkan diri secara berlebihan, tetapi menegaskan betapa tinggi kedudukan guru dalam Islam.

Sebaliknya, guru dalam Islam diposisikan sebagai figur teladan, bukan sekadar penyampai materi. Rasulullah ﷺ mendidik dengan kasih sayang, kesabaran, dan kelembutan, bahkan kepada mereka yang bersalah. Beliau tidak menghina, merendahkan, apalagi melukai harga diri muridnya. Keteladanan inilah yang membuat para sahabat tumbuh menjadi generasi terbaik.

Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani menegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk kepribadian Islam (syakhsiyyah Islamiyyah), yakni pola pikir dan pola sikap yang terikat pada akidah Islam. Karena itu, pendidikan tidak boleh netral nilai, apalagi tunduk pada kepentingan pasar. Negara wajib memastikan kurikulum berlandaskan akidah Islam, sehingga setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk akhlak, adab, dan ketaatan kepada Allah.

Dalam pandangan Islam, negara juga bertanggung jawab penuh menjaga lingkungan pendidikan yang aman, bermartabat, dan bebas dari kekerasan. Bukan dengan pendekatan hukum semata, tetapi dengan sistem pendidikan yang benar sejak akarnya.

Kasus guru dikeroyok murid dan murid dihina guru seharusnya menjadi alarm keras bagi kita semua. Selama pendidikan masih tercerabut dari nilai Islam, selama adab dan keteladanan tidak menjadi fondasi, maka konflik serupa akan terus berulang. Sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada ruhnya: mencetak generasi berilmu, beradab, dan bertakwa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *