MAJALENGKA // Zonakabar.com – Kecintaan terhadap budaya Sunda tidak selalu harus diwujudkan oleh seorang seniman. Dari ruang kelas sekolah dasar, seorang guru justru mampu menghadirkan gerakan pelestarian budaya yang tumbuh dari kreativitas, kepedulian, dan ketekunan.

Sosok tersebut adalah Sri Intan Gustina, S.Pd, guru SDN Tonjong I Kabupaten Majalengka. Dengan latar belakang pendidikan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Sri Intan membuktikan bahwa profesi guru memiliki ruang yang luas untuk ikut menjaga dan menghidupkan kembali budaya daerah di tengah generasi muda.
Melalui gagasan “Pajajaran Anyar di Sakola”, Sri Intan mengembangkan program yang berfokus pada pengenalan budaya Sunda kepada peserta didik, khususnya melalui pembelajaran aksara Sunda dan pengembangan seni tari di lingkungan sekolah.
Program tersebut lahir dari kegelisahannya melihat pentingnya menjaga keberlangsungan budaya Sunda di tengah perubahan zaman.
” Pengenalan budaya kepada anak-anak harus dilakukan dengan pendekatan yang dekat dengan dunia mereka, menyenangkan, sekaligus mampu menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas budaya sendiri,” ujar Intan saat diwawancara media, selasa (18/8/2026).
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Modul LIGAS (Latihan Gancang Aksara Sunda). Modul ini dirancang sebagai media pembelajaran untuk membantu siswa mengenal, mempelajari, serta mengingat aksara Sunda dengan metode yang lebih sederhana dan menarik.
Tidak berhenti pada aksara Sunda, Sri Intan juga mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler seni tari di SDN Tonjong I. Kegiatan tersebut bahkan dilatih langsung olehnya, meskipun dirinya bukan berlatar belakang pendidikan seni.
“Melestarikan budaya tidak harus menunggu kita menjadi ahli seni. Sebagai guru, saya percaya bahwa sekolah adalah tempat yang sangat strategis untuk mengenalkan dan menanamkan kecintaan terhadap budaya kepada generasi muda,” ungkapnya.
Semangat tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan yang memberikan dampak nyata. Program LIGAS maupun kegiatan seni tari SDN Tonjong I mulai dikenal tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di tingkat kecamatan hingga Kabupaten Majalengka.
Sejumlah siswa SDN Tonjong I bahkan berhasil meraih prestasi dalam bidang aksara Sunda maupun seni tari. Bagi Sri Intan, capaian tersebut bukan sekadar persoalan memenangkan perlombaan.
Lebih dari itu, prestasi siswa menjadi indikator bahwa proses pembelajaran budaya yang dilakukan secara konsisten mampu menumbuhkan ketertarikan dan kepercayaan diri anak-anak terhadap budaya daerahnya.
“Prestasi bukan tujuan akhir. Yang paling penting adalah bagaimana anak-anak mengenal budaya Sunda sebagai bagian dari kehidupan mereka, sesuatu yang dekat, menyenangkan dan layak untuk terus diwariskan,” katanya.
Dari Sekolah, Membawa Nama Majalengka
Dedikasi Sri Intan dalam mengembangkan inovasi pendidikan dan pelestarian budaya tersebut kemudian mengantarkannya menjadi salah satu ASN berprestasi yang melaju ke tingkat Provinsi Jawa Barat mewakili Kabupaten Majalengka.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa inovasi yang lahir dari lingkungan sekolah dapat berkembang menjadi sebuah karya yang memberikan nilai tambah bagi pendidikan sekaligus pelestarian budaya daerah.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka H. Muhamad Umar Ma’ruf mengapresiasi capaian Sri Intan. Menurutnya, prestasi tersebut menunjukkan bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga dapat menjadi penggerak inovasi dan pelestari budaya di lingkungan pendidikan.
“Bu Sri Intan memberikan contoh bahwa guru memiliki peran yang sangat luas. Tidak hanya mengajar di dalam kelas, tetapi juga mampu melahirkan inovasi, mengembangkan potensi peserta didik, sekaligus menjaga nilai-nilai budaya daerah,” ujar Kadisdik.
Ia menilai program Pajajaran Anyar di Sakola merupakan gagasan yang sejalan dengan upaya pendidikan dalam membentuk karakter peserta didik yang memiliki kecintaan terhadap daerah dan identitas budayanya.
“Ketika aksara Sunda dan seni budaya dikenalkan sejak sekolah dasar dengan cara yang kreatif, anak-anak tidak hanya belajar keterampilan, tetapi juga belajar mencintai identitas dan warisan budayanya,” katanya.
Menurut Kadisdik, keberhasilan Sri Intan menjadi representasi Kabupaten Majalengka di tingkat Provinsi Jawa Barat juga diharapkan dapat memotivasi para guru lainnya untuk terus berinovasi.
“Ini menjadi motivasi bagi guru-guru lainnya. Kami berharap semakin banyak pendidik yang berani mengembangkan gagasan dan inovasi sesuai dengan potensi yang ada di sekolah masing-masing. Prestasi seorang guru pada akhirnya akan memberikan dampak positif terhadap peserta didik dan dunia pendidikan secara keseluruhan,” tuturnya.
Merawat Kasundaan dari Sekolah
Bagi Sri Intan, pelestarian budaya tidak dapat dibebankan hanya kepada seniman atau budayawan. Sekolah, menurutnya, memiliki posisi strategis karena menjadi ruang tempat generasi muda tumbuh dan membentuk karakter.
Karena itu, mengenalkan aksara Sunda, bahasa Sunda, seni tari dan berbagai nilai budaya sejak usia sekolah dasar dinilai penting agar budaya tidak sekadar menjadi pengetahuan masa lalu, tetapi tetap hidup dalam keseharian generasi penerus.
“Merawat kasundaan bukan hanya tugas seorang seniman. Ini tanggung jawab bersama. Sekolah adalah salah satu tempat terbaik untuk menanamkan kembali akar budaya kepada generasi penerus,” ungkap Sri Intan.
Perjalanan Sri Intan melalui Pajajaran Anyar di Sakola menjadi gambaran bahwa inovasi pendidikan dapat tumbuh dari kepedulian sederhana seorang guru. Dari sebuah sekolah dasar di Kabupaten Majalengka, semangat menjaga budaya Sunda kini dibawa ke panggung yang lebih luas, hingga tingkat Provinsi Jawa Barat.
Bukan hanya tentang penghargaan, tetapi tentang bagaimana seorang guru menanamkan kecintaan terhadap budaya kepada anak-anak—agar akar kasundaan tetap tumbuh, dikenal, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sri Intan Gustina, S.Pd telah menunjukkan bahwa menjaga budaya bisa dimulai dari ruang kelas. Dan dari ruang kelas itulah, masa depan budaya Sunda dapat terus disemai.






