Game Online: Inspirasi Kekerasan dan Ancaman Serius bagi Keselamatan Generasi


Oleh: Annisa Rahma S.

Majalengka // zonakabar.com – Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam cara anak-anak dan remaja menghabiskan waktu luangnya. Game online kini menjadi salah satu bentuk hiburan paling populer karena mudah diakses dan digemari lintas usia. Namun, di balik kemasan visual yang menarik, alur cerita yang menantang, serta sensasi adrenalin yang ditawarkan, tersimpan persoalan serius yang tidak bisa diabaikan. Berbagai kasus kekerasan yang dikaitkan dengan pengaruh game online, bahkan hingga berujung pada tindakan kriminal berat seperti pembunuhan dan teror, menjadi bukti bahwa persoalan ini bukan isu sepele.

Bacaan Lainnya

Fenomena tersebut menegaskan bahwa game online tidak lagi sekadar persoalan hiburan atau pilihan gaya hidup individu. Ketika kekerasan dinormalisasi dan dikonsumsi secara masif oleh anak-anak, dampaknya tidak berhenti pada layar gawai. Kekerasan itu merembes ke dunia nyata, memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak, hingga akhirnya merusak sendi-sendi kemanusiaan serta keselamatan generasi.

Rantai Kekerasan yang Terinspirasi Game Online

Dalam beberapa tahun terakhir, publik dikejutkan oleh berbagai kasus kekerasan yang melibatkan anak dan remaja. Kasus-kasus tersebut mencakup perundungan ekstrem, percobaan bunuh diri, hingga aksi kriminal yang menghilangkan nyawa. Tidak sedikit dari peristiwa ini yang dalam proses penyelidikannya mengungkap adanya pengaruh game online, baik dalam bentuk kecanduan, imitasi adegan kekerasan, maupun perubahan perilaku yang signifikan.

Salah satu kasus yang menyita perhatian publik adalah pembunuhan seorang ibu oleh anaknya di Medan, yang disebut berawal dari kecanduan game online. Anak tersebut mengalami perubahan emosi, sulit mengendalikan amarah, dan kehilangan empati terhadap orang terdekatnya. Tragedi ini menjadi gambaran nyata bagaimana paparan konten kekerasan secara terus-menerus dapat merusak kejiwaan anak hingga mendorongnya melakukan tindakan di luar nalar kemanusiaan.

Kasus lain menunjukkan bagaimana ruang digital dapat menjadi media lahirnya teror. Penetapan seorang mahasiswa sebagai tersangka teror bom terhadap sejumlah sekolah di Depok memperlihatkan bahwa kekerasan tidak selalu terjadi secara spontan, tetapi juga dapat direncanakan. Dunia virtual, termasuk game dan platform digital lainnya, kerap menjadi ruang pembentukan pola pikir ekstrem, di mana kekerasan dianggap wajar, heroik, atau bahkan membanggakan.

Lebih mengkhawatirkan lagi, game online dengan konten kekerasan dapat diakses dengan sangat mudah oleh anak-anak. Tanpa pengawasan yang memadai, anak terpapar adegan pembunuhan, peperangan, dan agresi dalam durasi panjang. Paparan ini berdampak langsung pada emosi, cara berpikir, serta kesehatan mental. Anak menjadi lebih impulsif, mudah marah, dan kehilangan sensitivitas terhadap penderitaan orang lain.

Platform Digital Tidak Pernah Netral

Selama ini sering muncul anggapan bahwa teknologi bersifat netral dan dampaknya sepenuhnya bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya tepat. Platform digital, termasuk game online, dirancang dengan tujuan tertentu dan membawa nilai-nilai tertentu. Game bukan sekadar rangkaian kode, melainkan produk budaya yang sarat pesan, ideologi, dan kepentingan.

Banyak game online secara sistematis menormalisasi kekerasan. Pemain diberi hadiah, poin, atau status lebih tinggi ketika berhasil melukai, membunuh, atau menghancurkan pihak lain. Kekerasan tidak hanya ditampilkan, tetapi dijadikan inti dari kesenangan dan keberhasilan. Dalam jangka panjang, hal ini membentuk cara pandang bahwa kekerasan adalah solusi, hiburan, bahkan prestasi.

Di balik industri game global, berdiri kekuatan kapitalisme global yang menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama. Anak-anak dan remaja diposisikan sebagai pasar yang sangat menguntungkan. Semakin adiktif sebuah game, semakin lama pengguna menghabiskan waktu dan uang di dalamnya. Akibatnya, aspek moral, kesehatan mental, dan keselamatan generasi sering kali diabaikan. Kerusakan mental, meningkatnya agresivitas, hingga hilangnya nyawa manusia dianggap sebagai biaya sosial yang tidak masuk dalam perhitungan bisnis.

Hilangnya Peran Negara

Di sisi lain, negara tampak gagal menjalankan perannya sebagai pelindung generasi. Regulasi yang ada sering kali lemah, tidak tegas, dan tertinggal dari laju perkembangan teknologi. Pengawasan terhadap konten game online masih sangat terbatas, sementara sanksi terhadap pelanggaran tidak menimbulkan efek jera. Negara lebih sering bersikap reaktif setelah tragedi terjadi, bukan preventif untuk mencegah kerusakan sejak awal. Kondisi ini menunjukkan bahwa selama negara tunduk pada kepentingan pasar dan kapital, perlindungan generasi akan terus dikorbankan.

Perlindungan Generasi dalam Perspektif Islam

Islam memandang anak dan generasi sebagai amanah besar yang wajib dijaga. Negara dalam Islam memiliki kewajiban syar’i untuk melindungi jiwa, akal, dan akhlak rakyatnya, termasuk dari segala bentuk kerusakan yang datang melalui ruang digital. Pembiaran terhadap game online dengan konten kekerasan berarti mengabaikan kewajiban tersebut.

Islam tidak memandang kebebasan sebagai nilai absolut tanpa batas. Setiap aktivitas, termasuk produksi dan distribusi konten digital, harus tunduk pada aturan yang menjaga kemaslahatan umat. Karena itu, negara wajib melakukan penyaringan ketat terhadap konten game, melarang game yang mengandung kekerasan brutal, serta memastikan teknologi digunakan untuk kebaikan, bukan kehancuran.

Lebih jauh, Islam menawarkan solusi komprehensif melalui penerapan tiga pilar utama dalam menjaga generasi. Pertama, ketakwaan individu yang membentuk kesadaran moral dan tanggung jawab pribadi. Kedua, kontrol masyarakat melalui budaya saling menasihati dan mencegah kemungkaran, termasuk di ruang digital. Ketiga, perlindungan negara yang aktif dan tegas sebagai pilar utama. Ketiga pilar ini hanya dapat berjalan efektif jika diterapkan dalam sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan sosial, dan budaya yang berlandaskan Islam.

Maraknya kekerasan yang terinspirasi game online merupakan alarm keras bagi masyarakat dan negara. Game online dengan konten kekerasan bukan sekadar hiburan, melainkan ancaman nyata bagi akal, jiwa, dan masa depan generasi. Islam menawarkan solusi menyeluruh dan berkeadilan untuk mencabut akar persoalan, demi menjaga kemanusiaan dan memastikan masa depan yang lebih aman dan bermartabat.

Pos terkait