Oleh: Annisa Rahma S.
Dunia hari ini berada dalam kondisi yang semakin rapuh. Konflik berkepanjangan, ketimpangan ekonomi global, krisis ekologis, serta intervensi kekuatan besar terhadap negara-negara lemah menjadi pemandangan yang nyaris dianggap wajar. Di balik berbagai persoalan tersebut, terdapat satu pola besar yang sulit dibantah, yakni dominasi kepemimpinan global yang berpijak pada ideologi kapitalisme sekuler, dengan Amerika Serikat sebagai aktor utamanya. Model kepemimpinan ini tidak hanya gagal menghadirkan keadilan dan kesejahteraan, tetapi juga melahirkan penindasan struktural yang menjauhkan dunia dari nilai-nilai kemanusiaan dan rahmat.
Fakta Dominasi dan Kerusakan Global
Dunia saat ini berada di bawah pengaruh kuat Amerika Serikat sebagai kekuatan global dengan ideologi kapitalisme sekuler yang menjadi dasar kebijakan politik dan ekonominya. Dominasi ini berdampak signifikan pada banyak negara, termasuk negeri-negeri berpenduduk mayoritas Muslim, yang terjerat ketergantungan ekonomi, politik, dan militer sehingga kedaulatannya melemah dan kehidupan masyarakatnya semakin terseret arus sekularisasi (Kompas.com, 7 Januari 2026).
Kepemimpinan global berbasis kapitalisme juga berkontribusi besar terhadap krisis ekologis dunia. Orientasi pada pertumbuhan ekonomi dan akumulasi keuntungan telah mendorong eksploitasi sumber daya alam secara masif tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan. Akibatnya, berbagai bencana ekologis, perubahan iklim ekstrem, dan kerusakan ekosistem terus meningkat. Salah satu contoh nyata adalah rencana eksploitasi minyak Venezuela yang disebut berpotensi menghabiskan hingga 13 persen anggaran karbon global yang dibutuhkan untuk menjaga kenaikan suhu bumi di bawah 1,5 derajat Celsius (The Guardian, 12 Januari 2026).
Selain itu, Amerika Serikat semakin menunjukkan arogansi geopolitiknya melalui tekanan, ancaman, dan intervensi terhadap negara lain. Pada awal 2026, langkah-langkah AS terhadap Venezuela menuai kecaman internasional karena dinilai melanggar hukum internasional dan mengancam tatanan global. Tekanan ini juga berkaitan erat dengan kepentingan penguasaan sumber daya energi strategis Venezuela (Kompas.com, 7 Januari 2026; Investing.com, 2026).
Lebih kejamnya, sistem kapitalisme global ini turut menciptakan ketimpangan ekonomi yang ekstrem, di mana sepuluh persen penduduk terkaya dunia menguasai sekitar 75 persen total kekayaan global, sementara separuh terbawah populasi dunia hanya memiliki kurang dari dua persen kekayaan. Ketimpangan ini berdampak serius terhadap akses masyarakat pada pendidikan, layanan kesehatan, dan kesempatan ekonomi, serta berpotensi memperlemah stabilitas sosial dan politik di banyak negara (The Guardian, 10 Desember 2025).
Kegagalan Kepemimpinan Kapitalisme
Rangkaian fakta tersebut menunjukkan bahwa kapitalisme sekuler bukan sekadar sistem ekonomi, melainkan sebuah ideologi yang mengatur relasi kekuasaan global. Dalam sistem ini, nilai moral dan agama disingkirkan dari pengelolaan negara, sementara keuntungan materi dan dominasi kekuatan dijadikan tolok ukur keberhasilan. Negara-negara kuat merasa memiliki legitimasi untuk menekan, mengintervensi, bahkan menghancurkan kedaulatan negara lain demi menjaga kepentingannya.
Bagi umat Islam, dominasi sistem ini membawa dampak yang sangat luas. Kerusakan tidak hanya terjadi pada aspek ekonomi dan politik, tetapi juga merembet ke akidah, akhlak, muamalah, sosial budaya, dan pendidikan. Umat Islam semakin dijauhkan dari peran strategisnya sebagai pembawa risalah dan penggerak peradaban, lalu direduksi menjadi objek pasar dan kepentingan global.
Ketimpangan ekonomi global yang ekstrem memperjelas kegagalan kapitalisme dalam mewujudkan keadilan sosial. Kekayaan terakumulasi pada segelintir elite dunia, sementara mayoritas manusia hidup dalam kerentanan. Ketimpangan ini bukanlah penyimpangan, melainkan konsekuensi logis dari sistem yang menjadikan akumulasi modal sebagai tujuan utama, tanpa mekanisme distribusi yang adil.
Solusi Islam: Kepemimpinan Global yang Membawa Rahmat
Islam menawarkan paradigma kepemimpinan yang berbeda secara mendasar. Islam adalah mabda’ yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk politik, ekonomi, dan hubungan internasional. Dalam Islam, penguasa diposisikan sebagai ra’in (pengurus) dan junnah (pelindung), bukan sebagai alat penindasan atau perpanjangan kepentingan elite.
Kepemimpinan Islam bertujuan mewujudkan rahmatan lil ‘alamin, yaitu rahmat bagi seluruh alam. Negara bertanggung jawab menjaga jiwa, harta, kehormatan manusia, serta kelestarian lingkungan. Islam melarang eksploitasi sumber daya secara zalim dan menempatkan kekayaan alam sebagai amanah yang harus dikelola demi kemaslahatan seluruh rakyat.
Sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa para khalifah sangat menghargai kritik dan nasihat dari rakyat. Kritik dipandang sebagai bentuk muhasabah, bukan ancaman. Mekanisme muhasabah lil hukam memastikan kekuasaan berjalan sesuai syariat dan tidak menyimpang dari keadilan.
Lebih jauh, kepemimpinan Islam tidak hanya melindungi umat Islam, tetapi juga seluruh manusia tanpa membedakan agama dan bangsa. Dengan penerapan syariat Islam secara menyeluruh, Kepemimpinan Islam menjadi benteng dari kezaliman global, ketimpangan ekonomi, kerusakan moral, serta krisis ekologis yang hari ini melanda dunia.
Dominasi kepemimpinan global berbasis kapitalisme sekuler terbukti melahirkan ketidakadilan, ketimpangan, dan kerusakan yang sistemik. Dunia tidak kekurangan kekuatan, tetapi kekurangan kepemimpinan yang adil dan penuh rahmat. Islam hadir menawarkan solusi peradaban yang menyeluruh, manusiawi, dan berkeadilan.
Tegaknya kepemimpinan Islam merupakan harapan nyata untuk mengembalikan tatanan dunia yang melindungi manusia dan alam, serta membebaskan umat manusia dari dominasi sistem global yang menindas.





