Pentingnya Kedaulatan Energi


Oleh: Putri Efhira Farhatunnisa (Pegiat Literasi di Majalengka)

Potensi konflik atau ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) berpotensi memberikan dampak luas bagi negara-negara di seluruh dunia. Salah satu titik krusial yang menjadi fokus adalah Selat Hormuz—lokasinya berada di wilayah utara Iran dan selatan wilayah Oman serta Uni Emirat Arab. Jalur pelayaran ini merupakan salah satu yang paling penting di dunia, karena pada tahun 2025, sekitar 20% pasokan minyak dan gas global mengalir melalui sini, dengan volume mencapai sekitar 20 juta barel minyak per hari dan nilai perdagangan energi yang hampir mencapai US$600 miliar setiap tahunnya.

Bila akses melalui selat ini terganggu—baik karena adanya ancaman maupun tindakan yang benar-benar terjadi—hal ini dapat memunculkan kekhawatiran akan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Beberapa negara di antaranya Korea Selatan, Sri Lanka, Australia, Inggris, dan Jerman pernah mengalami kemacetan antrean di stasiun pengisian bahan bakar akibat kekhawatiran akan gangguan pasokan, sehingga pemerintah masing-masing terus memantau perkembangan kondisi terkini. (5/3/2026 cnnindonesia.com)

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah mengingatkan agar masyarakat Indonesia tetap tenang dan tidak terlibat dalam pembelian berlebihan karena panik (panic buying). Ketersediaan BBM di Indonesia dalam kondisi aman, dengan cadangan energi yang tersimpan di tangki mencapai 23 hari dan akan terus diisi. Sedangkan untuk harga BBM, akan mengikuti perkembangan harga minyak di pasar dunia, yang saat ini masih belum mencapai angka 70 dolar AS per barel. (12/3/2026 detik.news.com)

Kedaulatan Energi Sebagai Fondasi Stabilitas Negara

Minyak yang lewat Selat Hormuz bukan hanya berasal dari Iran, melainkan juga dari negara-negara kawasan Teluk lainnya seperti Irak, Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi. Karenanya, gangguan akses di selat ini dapat memberikan dampak yang signifikan bagi negara-negara importir utama seperti China, India, dan Jepang, serta bagi negara-negara pengekspor energi yang perekonomiannya sangat tergantung pada sektor energi.

Kenaikan harga minyak akibat terganggunya pasokan juga berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan jasa di seluruh dunia, dengan dampak yang lebih berat dirasakan oleh masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah yang tengah menghadapi tantangan dalam mendapatkan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan hidup dasar.

BBM adalah kebutuhan yang sangat krusial karena menyangkut mobilitas masyarakat serta berbagai sektor dalam perekonomian. Tanpa pasokan yang stabil, aktivitas kehidupan sehari-hari dapat terganggu dan berpotensi memicu ketidakstabilan sosial bila tidak dapat dikontrol dengan baik.

Hal ini menunjukkan seberapa pentingnya kedaulatan energi dalam menjaga stabilitas politik dan ekonomi suatu negara. Sebuah negara seharusnya berupaya mengurangi ketergantungan pada negara lain terkait kebutuhan dasar seperti energi, agar tidak terlalu mudah terpengaruh oleh dinamika geopolitik yang terjadi di kancah global.

Berbagai Perspektif dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam

Pengelolaan sumber daya alam (SDA), termasuk sumber energi, menjadi perhatian utama dalam berbagai sistem sosial dan ekonomi di dunia. Di dalam konteks sistem ekonomi kapitalis yang dijalankan di banyak negara, kepemilikan dan pengelolaan SDA terkadang diserahkan kepada pihak swasta atau pihak luar negeri dengan alasan keterbatasan alat dan kemampuan teknis, meskipun sebagian besar negara telah memiliki peraturan yang mengatur pengelolaan sumber daya alam tersebut.

Tujuan dari peraturan tersebut antara lain adalah untuk memastikan bahwa manfaat yang diperoleh dari kekayaan alam dapat dinikmati secara luas oleh masyarakat, bukan hanya oleh sebagian kecil pihak tertentu, serta untuk menjaga kontrol negara atas sumber daya yang memiliki nilai strategis. Namun demikian, dalam praktik pelaksanaannya, terkadang masih ditemui ketidaksetaraan dalam hal akses dan pemanfaatan yang dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan ekonomi di masyarakat.

Prinsip Pengelolaan SDA dalam Ajaran Islam

Di sisi lain, dalam ajaran Islam, sumber daya alam seperti BBM dianggap sebagai milik bersama yang harus digunakan untuk kesejahteraan umat secara luas. Rasulullah ﷺ bersabda: “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Prinsip ini menjadi landasan bahwa SDA tidak boleh dikuasai secara eksklusif oleh seorang individu, kelompok tertentu, atau pihak asing. Ajaran Islam mengatur tentang kepemilikan dan cara pengelolaan SDA dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti sandang, pangan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, dan keamanan.

Banyak umat Muslim berharap bahwa kekayaan alam yang melimpah di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim dapat benar-benar memberikan manfaat kesejahteraan bagi seluruh masyarakatnya. Namun, kenyataan yang ada terkadang menunjukkan bahwa manfaat dari kekayaan alam tersebut belum dapat dirasakan secara merata, yang sebagian besar dikaitkan dengan sistem pengelolaan yang diterapkan pada saat ini.

Sistem sebagai Faktor Penentu Keberhasilan Pengelolaan

Mengapa kekeliruan dalam pengelolaan yang terjadi saat ini selalu dikaitkan dengan sistem yang digunakan? Karena sistem adalah kunci utama dalam mencapai kesuksesan pengelolaan. Kesuksesan yang sesungguhnya dan hakiki hanya dapat diraih melalui sistem yang berasal dari Sang Pencipta, yaitu Allah SWT, bukan dari sistem yang dibuat oleh manusia.

Manusia seringkali melakukan kesalahan meskipun memiliki akal budi yang cerdas dan jenius, karena keterbatasan yang dimilikinya. Namun, Allah SWT Maha Mengetahui segala hal tentang makhluk-Nya, oleh karena itu Dialah yang berhak menetapkan aturan untuk kehidupan di dunia ini. Maka umat Islam tidak seharusnya menggantungkan harapan perbaikan pada sistem yang memang sudah rusak sejak awal.

Wallahua’lam bish-shawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *