MAJALENGKA // Zonakabar.com –
Kreativitas generasi muda Kabupaten Majalengka dalam mengembangkan teknologi digital sekaligus melestarikan budaya lokal ditunjukkan melalui gim atau permainan digital bertajuk Mandala. Gim karya mahasiswa Universitas Majalengka ini mengangkat legenda Nyi Rambut Kasih sebagai tokoh utama dalam permainan yang memadukan unsur hiburan, edukasi, dan kearifan lokal.

Inovasi tersebut diperkenalkan dalam gelaran Majalengka Creative Festival Ekraf yang berlangsung di Gedung Majalengka Creative Center (MCC), Kamis (22/10/2026). Kehadiran gim Mandala menjadi salah satu contoh pemanfaatan teknologi digital untuk memperkenalkan sejarah dan identitas budaya Majalengka kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Gim Mandala dikembangkan oleh tim beranggotakan lima mahasiswa Jurusan Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Majalengka, yang diketuai Andika Rahmatullah. Menariknya, pengembangan gim tersebut berawal dari tugas mata kuliah dan diselesaikan dalam waktu sekitar empat bulan.
Dari sebuah tugas akademik, tim mahasiswa ini berhasil menghasilkan karya digital yang mengangkat cerita lokal ke dalam format permainan interaktif. Inovasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa dunia pendidikan dapat menjadi ruang lahirnya kreativitas dan potensi ekonomi kreatif berbasis teknologi.

Angkat Legenda Nyi Rambut Kasih dan Identitas Majalengka.
Gim Mandala mengambil latar cerita legenda Nyi Rambut Kasih yang lekat dengan sejarah dan identitas Kabupaten Majalengka. Dalam permainan ini, Nyi Rambut Kasih digambarkan sebagai sosok pelindung yang berupaya menjaga keberadaan Buah Maja serta kelestarian Bahasa Sunda Majalengka dari ancaman pasukan musuh yang dipimpin seorang pangeran asal Cirebon.
Kedua unsur tersebut menjadi bagian penting dalam alur permainan. Buah Maja tidak hanya menjadi simbol yang berkaitan dengan identitas Majalengka, tetapi juga berfungsi sebagai representasi nyawa karakter dalam gim.
Melalui konsep tersebut, pemain diajak mengenal cerita lokal dengan cara yang lebih menarik dan interaktif. Legenda yang selama ini dikenal melalui cerita lisan maupun kisah sejarah daerah dihadirkan dalam bentuk permainan digital yang dekat dengan kebiasaan generasi muda.
Mengusung Konsep Permainan Ketik Cepat.
Dari sisi mekanisme permainan, Mandala mengusung genre fast typing game atau permainan mengetik cepat. Pemain ditantang untuk mengetik kata-kata yang muncul di layar dengan cepat dan tepat guna menghadapi serangan prajurit musuh.
Kecepatan pemain dalam mengetik menjadi faktor penting untuk mempertahankan nyawa karakter. Apabila pemain tidak mampu menyelesaikan tantangan dengan baik, nyawa yang disimbolkan melalui Buah Maja akan berkurang.
” Konsep ini memadukan unsur hiburan dengan keterampilan mengetik, sehingga pemain tidak hanya menikmati alur cerita, tetapi juga ditantang untuk meningkatkan kecepatan dan ketepatan dalam menggunakan papan ketik, ujar Andika.
Selain itu, gim Mandala telah dipublikasikan melalui platform situs web sehingga dapat diakses dan dimainkan langsung oleh masyarakat. Akses berbasis web tersebut membuka peluang bagi gim lokal ini untuk menjangkau pengguna yang lebih luas.
Diskominfo Apresiasi Inovasi Mahasiswa.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Majalengka, Irwan mengapresiasi karya inovatif mahasiswa Universitas Majalengka tersebut.
Menurutnya, Mandala menjadi contoh perpaduan teknologi modern dengan upaya pelestarian budaya daerah. Pemanfaatan gim digital dinilai sebagai salah satu cara kreatif untuk mengenalkan cerita rakyat, sejarah, dan bahasa daerah kepada generasi muda.
“Kami sangat mengapresiasi dan bangga atas karya inovatif dari mahasiswa Universitas Majalengka ini. Mengangkat cerita rakyat seperti Nyi Rambut Kasih dan Bahasa Sunda Majalengka ke dalam format gim digital adalah langkah kreatif yang sangat efektif untuk mengenalkan sejarah serta kebudayaan lokal kepada generasi muda saat ini,” ujarnya.
Irwan menilai, perkembangan teknologi digital membuka peluang besar bagi generasi muda untuk menghasilkan karya kreatif yang tidak hanya memiliki nilai hiburan, tetapi juga mengandung unsur edukasi dan pelestarian budaya.
Karena itu, kreativitas anak muda perlu terus didorong agar mampu melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat identitas daerah di tengah perkembangan teknologi.
“Pemkab Majalengka melalui Diskominfo akan terus mendukung ruang-ruang kreasi digital dan ekosistem ekonomi kreatif seperti ini agar karya anak bangsa makin berkembang dan dapat bersaing di tingkat yang lebih luas,” tambahnya.
Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Daerah.
Kehadiran gim Mandala dalam Majalengka Creative Festival Ekraf memperlihatkan bahwa potensi ekonomi kreatif daerah tidak terbatas pada produk kerajinan, kuliner, maupun seni pertunjukan. Pengembangan gim, aplikasi, dan produk digital juga menjadi peluang yang dapat digarap oleh generasi muda.
Karya seperti Mandala menunjukkan bahwa cerita rakyat dan kekayaan budaya lokal dapat dikembangkan menjadi produk kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman. Dengan dukungan pendidikan, komunitas kreatif, pemerintah, dan akses terhadap teknologi, karya digital lokal berpeluang menjangkau pasar yang lebih luas.
Melalui inovasi tersebut, generasi muda Majalengka diharapkan semakin berani mengembangkan ide dan kemampuan teknologi menjadi karya nyata. Selain menjadi sarana hiburan dan edukasi, gim lokal juga dapat menjadi media untuk memperkenalkan kekayaan budaya Majalengka kepada masyarakat luas.






